18 April 2014, inilah perjalanan sekelompok mahasiswa
penuh dengan keanehannya masing-masing yang berusaha mencari arah tujuan hidup.
Sang mentari berdiri gagah memancarkan sinar putih
membayangi setiap perjalanan. Segerombolan “pecandu ketinggian” mulai bergerak
menggebrak jalanan yang begitu ramai. Terus melaju bagaikan geng motor yang
haus darah. Meliuk-liuk bak peselancar memecah ombak. Itulah kami, para laskar
galian labder memulai cerita dengan melukis jejak disalah satu puncak gunung
Indonesia tercinta, gunung Sindoro. Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung di
Indonesia yang berada di Temanggung dan memiliki pesona pemandangan indah. Kami
segelintir mahasiswa yang terdiri dari Ryo Khabib (pendaki professional)
begitulah saya menyebutnya, karena setahu saya dialah yang sering menaklukan
puncak-puncak gunung, hoho. Selanjutnya ada Mas Septyan (kakak tingkat saya
yang pernah menaklukan Mahameru), Choerin Amry (pemilik ide-ide kreatif namun
menyesatkan, hehe peace), Mas Fatah (diam-diam dan tidak menghanyutkan, eh),
Arif Andri (si kyai subur alias si mbok’e), Maedanu Putra (si tampan dari gua
hantu, wadoohh), Edy Awo (adiknya peppy, wkwkwk), Indra Alim (si pengejek ulung,
upps), Mustofa (MAN?), dan dua gadis cantik Nur and Na’im serta terakhir saya Yahya Nugraha, orang paling aneh
sedunia yang hidup penuh kemujuran J.
Jum’at siang adalah start
awal bagi kami untuk memulai petualangan. Suatu penghormatan karena diberi
kesempatan bisa blusuk’an ke gunung Sindoro. Padahal sebelumnya pernah ditawari
oleh tukang touring saya, siapa lagi
kalau bukan si Khabib. Dialah yang sering menguji kesabaran saya bahkan dibuat
jengkel dengan semua keinginannya. Merbabu? tak tolak, Lawu? apa lagi, Sumbing?
ah ogah, Merapi? emmoh wedi mbledos, Semeru? badala ojo sek -_-“, dan terakhir
baru bisa diterima, Sindoro. Haha maklum memang belum tahu persis kesibukan
masing-masing, jadi kalau nawarin apa-apa pasti semaunya. It’s OK. Awal yang
tak boleh disia-siakan mengingat ini adalah pertama kali saya dan dua teman
saya yakni si Edi dan Maedanu mendaki gunung. Rasa penasaran pasti selalu ada.
Malam mulai menyelimuti bumi, bulan semakin menampakkan
keanggunannya, bintang-bintang tak henti-hentinya memancarkan sinar putih penuh
harapan. Hari yang indah. Merasakan semua kuasa-Nya memang sungguh luar biasa.
Inilah alam semesta beserta isinya. Ayat-ayat kebesaran-Nya membentuk melengkuk
memeluk ciptaan, terbentang luas skenario kehidupan, penuh misteri dan
teka-teki. Sekitar pukul 7 malam kami telah sampai di Base Camp gunung Sindoro.
Mulai sibuk dengan segala persiapan akomodasi dan amunisi mulai dari jaket, sarung
tangan, mantel, senter, sepatu dan tak kalah pentingnya yakni bekal makanan
serta keperluan lainnya. Setengah sembilan kami mulai berangkat mendaki.
Berjalan melewati pemukiman dan ladang milik warga setempat, awal yang masih
mudah. Perjalanan masih panjang, bisikan angin malam merayu mata untuk
tertutup. Bau basah semakin menyeruak, kulit tertusuk-tusuk dinginnya malam.
Rekatkan jaket dan terus melangkah mengabaikan kaki yang mulai melemah, semakin
lama semakin terasa jauh.
Pos 1, akhirnya tiba di pos awal. Sejenak kami membujurka
kaki, keringat dingin tak henti-hentinya bercucuran keluar dari pori kulit sawo
matang. Lekas mengambil botol air dari ransel untuk segera diminum, berbagi
berbagai macam camilan. Inilah indahnya berbagi, sungguh nikmat. Malam semakin
pekat, kami bersama ribuan pohon saling berebut udara demi memenuhi nafas jiwa
masing-masing. Sesaat setelah memanjakan diri di pos ini, kami pun melanjutkan perjalanan
menuju pos berikutnya. Ini lumayan lebih berat karena jarak tempuh semakin jauh
dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Setiap kata yang terucap, canda tawa yang selalu keluar
dari bibir sahabat-sahabat kehidupan meleburkan segala rasa, meluluh lantahkan
keletihan dan tentunya memaksa bibir untuk selalu tersenyum. Melihat samping
kiri-kanan sedikit membuat saya tidak enak. Tidak enak karena melihat
teman-teman menggendong karrir, ransel dengan ribuan kilo bebannya (hehe) penuh
bekal dan kebutuhan lainnya, sedangkan saya hanya satu tas berukuran sedang
yang tergolong ringan. Maklum isinya cuma roti, mie, air minum, dan baju ganti.
Tak perlu bersimpatilah, resiko ditanggung penumpang, ups sorry guyon J.
Nantikan
kelanjutannya….