News & Updates

Sabtu, 31 Mei 2014

Bukan Hanya Sekedar Kata




"Jika aku harus hidup seperti tikus sembunyi-sembunyi setiap hari. lebih baik aku melakukan apapun dengan kekuatanku dan berusaha melawan takdir"


"Menerima lebih mudah daripada melakukan. Ada begitu banyak hal di dunia ini yang sulit diterima. Beberapa hal terjadi begitu cepat bahkan kau tak sadar itu sudah berakhir."

Berbagilah Kawan




       Masih teringat kala itu, ketika saya diberi kehormatan (weleh) menemani guru saya yang baru pulang dari negeri sakura (Japan). Seperti biasa, beliau selalu berkicau dihadapan orang-orang yang ada di depan batang hidungnya, salah satunya ya saya. Tausiyah demi tausiyah pasti terlontar demi memenuhi kebutuhan hidupnya, yakni berbagi ilmu. Saat berjalan di salah satu spot di pantai parang tritis, dengan santainya beliau menebarkan jurus saktinya berupa wejangan-wejangan yang sangat enak untuk didengar. 
"Yah, we nak lulus kuliah meh dadi opo?" tanyanya datar.
"Gak tahu pak." jawabku sambil geleng-geleng kepala.
"Jawaban bagus."
"Kok bagus?, emang kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ya itu tandanya kamu siap dengan segala pekerjaan yang akan kamu terima nantinya". jawabnya penuh   keyakinan.
          
   Wuih, jawaban yang membuat saya lumayan lega. Ya walaupun itu tidak terlalu membuat saya merasa "wah" karena kondisi hidup saya yang saat itu tidak terlalu bersahabat dengan lingkungan sekitar. Jadi cukup meng-iya-kan saja, sambil tersenyum tentunya, hehe. 
    Saya malah merasa senang dan takjub ketika saya mengamalkan ucapan beliau itu kepada teman-teman kampus saya. Beberapa teman, saya beri pertanyaan plus jawaban persis seperti beliau, mereka hanya merespon biasa saja. Namun sebagian yang lain malah tercengang dan membuat mereka merasa hidup kembali, maklum mereka yang kala itu benar-benar dalam keadaan galau berat, jadi kata-kata tadi benar-benar memberi energi semangat yang luar biasa. Dan gara-gara kata-kata itu juga hidup mereka justru menjadi lebih baik, kuliah bisa berbisnis dan memiliki pendapatan yang lumayan besar. Sedangkan nasib saya malah mocar-macir entah kemana, yang jelas saya kurang beruntung -_-". Tapi tak apa, yang penting sudah berbagi ilmu adalah hal yang luar biasa dalam kehidupan saya, apalagi dapat membuat seseorang menjadi lebih bermakna.

Melukis Jejak Di Gunung Sindoro




18 April 2014, inilah perjalanan sekelompok mahasiswa penuh dengan keanehannya masing-masing yang berusaha mencari arah tujuan hidup.
Sang mentari berdiri gagah memancarkan sinar putih membayangi setiap perjalanan. Segerombolan “pecandu ketinggian” mulai bergerak menggebrak jalanan yang begitu ramai. Terus melaju bagaikan geng motor yang haus darah. Meliuk-liuk bak peselancar memecah ombak. Itulah kami, para laskar galian labder memulai cerita dengan melukis jejak disalah satu puncak gunung Indonesia tercinta, gunung Sindoro. Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung di Indonesia yang berada di Temanggung dan memiliki pesona pemandangan indah. Kami segelintir mahasiswa yang terdiri dari Ryo Khabib (pendaki professional) begitulah saya menyebutnya, karena setahu saya dialah yang sering menaklukan puncak-puncak gunung, hoho. Selanjutnya ada Mas Septyan (kakak tingkat saya yang pernah menaklukan Mahameru), Choerin Amry (pemilik ide-ide kreatif namun menyesatkan, hehe peace), Mas Fatah (diam-diam dan tidak menghanyutkan, eh), Arif Andri (si kyai subur alias si mbok’e), Maedanu Putra (si tampan dari gua hantu, wadoohh), Edy Awo (adiknya peppy, wkwkwk), Indra Alim (si pengejek ulung, upps), Mustofa (MAN?), dan dua gadis cantik Nur and Na’im serta terakhir saya Yahya Nugraha, orang paling aneh sedunia yang hidup penuh kemujuran J.
Jum’at siang adalah start awal bagi kami untuk memulai petualangan. Suatu penghormatan karena diberi kesempatan bisa blusuk’an ke gunung Sindoro. Padahal sebelumnya pernah ditawari oleh tukang touring saya, siapa lagi kalau bukan si Khabib. Dialah yang sering menguji kesabaran saya bahkan dibuat jengkel dengan semua keinginannya. Merbabu? tak tolak, Lawu? apa lagi, Sumbing? ah ogah, Merapi? emmoh wedi mbledos, Semeru? badala ojo sek -_-“, dan terakhir baru bisa diterima, Sindoro. Haha maklum memang belum tahu persis kesibukan masing-masing, jadi kalau nawarin apa-apa pasti semaunya. It’s OK. Awal yang tak boleh disia-siakan mengingat ini adalah pertama kali saya dan dua teman saya yakni si Edi dan Maedanu mendaki gunung. Rasa penasaran pasti selalu ada.
Malam mulai menyelimuti bumi, bulan semakin menampakkan keanggunannya, bintang-bintang tak henti-hentinya memancarkan sinar putih penuh harapan. Hari yang indah. Merasakan semua kuasa-Nya memang sungguh luar biasa. Inilah alam semesta beserta isinya. Ayat-ayat kebesaran-Nya membentuk melengkuk memeluk ciptaan, terbentang luas skenario kehidupan, penuh misteri dan teka-teki. Sekitar pukul 7 malam kami telah sampai di Base Camp gunung Sindoro. Mulai sibuk dengan segala persiapan akomodasi dan amunisi mulai dari jaket, sarung tangan, mantel, senter, sepatu dan tak kalah pentingnya yakni bekal makanan serta keperluan lainnya. Setengah sembilan kami mulai berangkat mendaki. Berjalan melewati pemukiman dan ladang milik warga setempat, awal yang masih mudah. Perjalanan masih panjang, bisikan angin malam merayu mata untuk tertutup. Bau basah semakin menyeruak, kulit tertusuk-tusuk dinginnya malam. Rekatkan jaket dan terus melangkah mengabaikan kaki yang mulai melemah, semakin lama semakin terasa jauh.
Pos 1, akhirnya tiba di pos awal. Sejenak kami membujurka kaki, keringat dingin tak henti-hentinya bercucuran keluar dari pori kulit sawo matang. Lekas mengambil botol air dari ransel untuk segera diminum, berbagi berbagai macam camilan. Inilah indahnya berbagi, sungguh nikmat. Malam semakin pekat, kami bersama ribuan pohon saling berebut udara demi memenuhi nafas jiwa masing-masing. Sesaat setelah memanjakan diri di pos ini, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Ini lumayan lebih berat karena jarak tempuh semakin jauh dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Setiap kata yang terucap, canda tawa yang selalu keluar dari bibir sahabat-sahabat kehidupan meleburkan segala rasa, meluluh lantahkan keletihan dan tentunya memaksa bibir untuk selalu tersenyum. Melihat samping kiri-kanan sedikit membuat saya tidak enak. Tidak enak karena melihat teman-teman menggendong karrir, ransel dengan ribuan kilo bebannya (hehe) penuh bekal dan kebutuhan lainnya, sedangkan saya hanya satu tas berukuran sedang yang tergolong ringan. Maklum isinya cuma roti, mie, air minum, dan baju ganti. Tak perlu bersimpatilah, resiko ditanggung penumpang, ups sorry guyon J.


Nantikan kelanjutannya….

Jiwaku Pergi


       

       Terasa sunyi hari-hari yang aku jalani. Aku hanya bisa terdiam dan termenung melihat kejanggalan hidup yang penuh misteri. Memang hidup tak seindah mimpi, cobaan silih berganti. Sudah semestinya aku tak seperti ini, tapi kenyataan seakan menuntunku untuk selalu terikat pada nafas-nafas yang tak pasti. Mengapa semua ini terjadi? Inginku berhenti sejenak melegakan kesendirianku di tengah-tengah gumpita hidup yang terus melaju. Tuhan ku tak sanggup lagi menahan perihnya hati, mengapa aku begini. Tuhan ku tak tahan lagi menangis seperti ini, jauhkan semua dariku. Berikan aku kasih sayang yang abadi untuk menuntun hidupku.